Susah gampang mendapatkan data jumlah penduduk

Saat ini banyak instansi pemerintah, perorangan maupun perusahaan yang membutuhkan informasi untuk mendukung pengambilan keputusannya. Lama kelamaan sumber data internal semakin tidak mencukupi untuk lebih menajamkan hasil analisa. Mungkin ada yang bertanya kenapa data internal tidak mencukupi? Bukannya data internal itu sifatnya detail dan sudah terstruktur? Iya, benar sekali. Namun data internal sifatnya sangat spesifik dan sering terbatas pada tema tertentu misalkan industri keuangan hanya memiliki data tentang kredit macet, jumlah nasabah, jumlah deposito dll.

Salah satu contoh kasus sebuah perusahaan membutuhkan data eksternal adalah saat menyusun Rencana Bisnis (Business Plan). Hal pertama yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan data historis dari data internal lalu kemudian melakukan forecasting/ peramalan setahun kedepan. Hanya menggunakan data internal saja maka model akan memberikan hasil forecasting sesuai dengan data historical, jika data historical naik maka di masa depan akan cenderung naik jika turun juga akan cenderung turun. Nah.. disinilah kita membutuhkan data eksternal. Jika bisnis kita sangat tergantung pada jumlah penduduk dan levelnya adalah kecamatan. Maka mulailah kita nanya mbah google.com. Saya sendiri mencoba mencari data ini karena kebetulan di kantor juga membutuhkannya.

Hasilnya sebagai berikut.

jml penduduk per kecSemua pencarian diatas merujuk pada website masing-masing kabupaten. Artinya kita harus mendownload SEBANYAK JUMLAH KABUPATEN!!! Inilah salah satu suka duka cari data gratisan..hahaha…

Tapi tunggu dulu link paling atas itu memiliki semua data penduduk per kecamatan yang sudah di rekap. Mantap nih.. Saat di klik dukcapil kecamatan

Waaah bagus banget nih… datanya persis seperti yang saya butuhkan tapiii….setelah copas ke excel hasilnya begini..

excel penduduk

Sayangnya format data yang ada belum sesuai dengan ekspektasi saya. Saya membutuhkan format seperti ini

TABEL FORMAThanya untuk beberapa baris data saja saya membutuhkan waktu lebih dari 5 menit, sudah bisa dibayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan data se-Indonesia?

Pada postingan berikutnya saya akan coba share cara lain untuk mengumpulkan data dengan lebih mudah. Buat yang tertarik dengan data yang sudah rapi silahkan subscribe dan follow blog saya.

Advertisements

A dan B dan C dan D tidak sama dengan A+B+C+D

Seminggu yang lalu Indonesia memasuki era kepemimpinan yang baru. Jokowi dan JK di daulat menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia yang baru. Setelah membentuk sebuah kabinet dengan tag line kerja, kerja, kerja, para menteri memulai marathon dengan start ala sprint. Tidak ada masa bulan madu, langsung tancap gas mulai dari hari pertama. Seperti tidak ingin membuang waktu, beberapa kementerian telah memulai start sprint mereka dengan rapat-rapat di jajaran kementerian masing-masing. Pada rapat perdana yang digelar sehari setelah pelantikan, Presiden Jokowi memberikan arahan yang secara pribadi sangat penting yakni melepas ego sektoral masing-masing kementerian. Ini bukan arahan yg baru, namun penekanan Presiden dalam kalimat-kalimat awal rapat cabinet nya memberikan sinyal bahwa ini adalah hal yang utama dan pertama yang harus dilaksanakan.

Dalam dunia statistika seringkali diperlukan penyusunan sebuah model yang baik. Model ini tersusun atas variable bebas dan variable terikat. Variabel bebas adalah variable yang menjadi penentu dan sifatnya bebas, sedangkan variable terikat adalah output atau hasil yang diharapkan tercermin oleh keberadaan variable bebas. Analogi penyusunan model ini dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan inisiatif-inisiatif yang akan dilaksanakan oleh pemerintah melalui berbagai kementeriannya. Let’s say pemerintah mempunyai empat inisiatif yaklni A, B, C dan D dilaksanakan oleh empat kementerian yang berbeda namun mempunyai tujuan yang sama let’s say X. Apakah kita dapat dengan yakin mengatakan bahwa jika semua inisiatif ini dilakukan secara baik maka output nya menjadi A+B+C+D?? Jawaban belum tentu. Pada saat inisiatif ini disusun tentu menggunakan asumsi (jika begini maka begitu) , semakin banyak asumsi yang digunakan maka semakin luas range output dari inisiatifnya. Berikut beberapa penyebabnya:

  • Interaksi dan kanibalisasi dari berbagai inisiatif. Bisa jadi dua inisiatif membutuhkan sumber daya yang sama sehingga keduanya saling berkompetisi mendapatkan sumber daya yang sama.
  • Output dari inisiatif itu sejatinya terbatas. Penjelasan dalam bentuk contoh akan lebih memudahkan, jika peningkatan devisa kita maksimum hanya 300 trilyun maka sebanyak apapun inisiatif yang ada tidak akan pernah membuat devisa kita menjadi 600 trilyun. Anda bisa membayangkan jika setiap kementerian pada akhir inisiatif mengklaim keberhasilan inisiatifnya. Inisiatif A diklaim meningkatkan devisa 200 T, Inisiatif B 200 T, Inisiatif C 100 T, Inisatif D 100 T. Totalnya 600 T padahal kenyataanya naiknya Cuma 300 T.

Kita bisa membayangkan berapa banyak inisiatif yang akan dilakukan oleh pemerintah, dengan berbagai macam asumsi yang dipasangkan. Sekarang anda bisa membayangkan betapa susahnya melakukan sinkronisasi inisiatif inter dan antar kementerian. Beberapa inisiatif yang simple, executable dan terukur akan jauh lebih baik dibandingkan dengan banyak inisiatif namun ribet dan susah dilaksanakan. Selamat bekerja!