Apakah Prabowo-Sandi masih mungkin menang Pilpres 2019, Atau memang sudah saatnya mengakui kemenangan Jokowi-Amin?

Pertama, mari kita terima hasil quick count dari Lembaga survey dan ambil itu sebagai angka prediksi proporsi suara. Saya akan ambil angka QC per provinsi (1), angka-angka ini anda bisa temukan di tirto.id. Lalu saya juga menggunakan data DPT tahun 2018 per provinsi (2) dan terakhir saya menggunakan data real count dari kawalpemilu.org (3) yang akan terus saya update untuk memperbaiki prediksi hasil akhir pilpres. Metode yang saya gunakan adalah sebagai berikut:

1.Semua data real count yang sudah masuk di aggregate di level provinsi dan dibuat proporsi untuk masing-masing calon.

2.Gunakan proporsi dari langkah pertama untuk dikalikan dengan jumlah DPT masing-masing provinsi.

3.Masukkan angka hasil survey provinsi yang kemungkinan akan sangat berpengaruh pada hasil akhir.

4.Lakukan what if analysis untuk simulasi daerah mana yg mungkin akan merubah peta suara.

Karena semua survey sudah memprediksi 01 Jokowi-Amin yang menang, maka akan lebih menarik untuk membahas sebaliknya. Ok lets get started, jika mengikuti proporsi suara per provinsi yang sudah masuk sampai saat ini (kisaran 7-8%) maka prediksi saya Jokowi-Amin (51.38%) dan Prabowo-Sandi (48.62%). Hal ini cukup mengejutkan saya karena ternyata prosentase suara Jokowi-Amin menurut survey rata-rata 54-55%, saya melihat ada beberapa catatan penting disini (so far).

Original

Pertama pergeseran lumbung suara besar Jokowi di tahun 2014 yakni di daerah Sumut dan Sulawesi Selatan dimana total kedua daerah tsb menyumbang 16jt suara. Begitupula dengan daerah-daerah Sulawesi yang tadinya menjadi lumbung suara karena keberadaan pak JK.

Kedua penguatan lumbung suara Prabowo. Saya melihat hampir tidak ada provinsi yang berbalik dari mayoritas Prabowo menjadi mayoritas Jokowi. Semakin kuatnya basis-basis Prabowo akan membuat selisih suara semakin kecil.

Apakah Prabowo-Sandi masih bisa menang? Jawabannya masih, namun dengan beberapa catatan.

Saya coba melihat daerah-daerah yang masih bisa berubah proporsi suaranya karena ada indikasi dari beberapa Lembaga survey proporsinya berubah signifikan.

Pertama Sulawesi Utara dimana angka proporsi sekarang 82%:18% sedangkan menurut Charta Politika 73%:27%

Kedua DKI Jakarta dimana proporsi sekarang 52%:48% sedangkan menurut Charta Politika 49%:51%.

Apakah itu sudah cukup? Ternyata belum. Untuk memenangkan pertarungan ini Prabowo-Sandi harus berjuang memastikan di Jawa Tengah mereka mendapatkan 30% suara, begitupula di Jawa Timur minimal harus mendapatkan 40% suara.

Dengan semua Analisa dan asumsi diatas komposisi akhir pilpres 2019 bisa menjadi 49.90% : 50.10%.

WhatIf

Analisa ini hanya merupakan exercise pribadi saya untuk menelaah dinamikan politik yang sekarang sangat HANGAT. Masih ada beberapa variable seperti tingkat golput per provinsi yang belum saya masukkan, mungkin diupdate berikutnya. Saya sangat terbuka untuk diskusi dari semua pihak untuk lebih menajamkan prediksi, karena saya yakin masih banyak factor yang belum diperhitungan dalam analisis ini.

Salam

A dan B dan C dan D tidak sama dengan A+B+C+D

Seminggu yang lalu Indonesia memasuki era kepemimpinan yang baru. Jokowi dan JK di daulat menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia yang baru. Setelah membentuk sebuah kabinet dengan tag line kerja, kerja, kerja, para menteri memulai marathon dengan start ala sprint. Tidak ada masa bulan madu, langsung tancap gas mulai dari hari pertama. Seperti tidak ingin membuang waktu, beberapa kementerian telah memulai start sprint mereka dengan rapat-rapat di jajaran kementerian masing-masing. Pada rapat perdana yang digelar sehari setelah pelantikan, Presiden Jokowi memberikan arahan yang secara pribadi sangat penting yakni melepas ego sektoral masing-masing kementerian. Ini bukan arahan yg baru, namun penekanan Presiden dalam kalimat-kalimat awal rapat cabinet nya memberikan sinyal bahwa ini adalah hal yang utama dan pertama yang harus dilaksanakan.

Dalam dunia statistika seringkali diperlukan penyusunan sebuah model yang baik. Model ini tersusun atas variable bebas dan variable terikat. Variabel bebas adalah variable yang menjadi penentu dan sifatnya bebas, sedangkan variable terikat adalah output atau hasil yang diharapkan tercermin oleh keberadaan variable bebas. Analogi penyusunan model ini dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan inisiatif-inisiatif yang akan dilaksanakan oleh pemerintah melalui berbagai kementeriannya. Let’s say pemerintah mempunyai empat inisiatif yaklni A, B, C dan D dilaksanakan oleh empat kementerian yang berbeda namun mempunyai tujuan yang sama let’s say X. Apakah kita dapat dengan yakin mengatakan bahwa jika semua inisiatif ini dilakukan secara baik maka output nya menjadi A+B+C+D?? Jawaban belum tentu. Pada saat inisiatif ini disusun tentu menggunakan asumsi (jika begini maka begitu) , semakin banyak asumsi yang digunakan maka semakin luas range output dari inisiatifnya. Berikut beberapa penyebabnya:

  • Interaksi dan kanibalisasi dari berbagai inisiatif. Bisa jadi dua inisiatif membutuhkan sumber daya yang sama sehingga keduanya saling berkompetisi mendapatkan sumber daya yang sama.
  • Output dari inisiatif itu sejatinya terbatas. Penjelasan dalam bentuk contoh akan lebih memudahkan, jika peningkatan devisa kita maksimum hanya 300 trilyun maka sebanyak apapun inisiatif yang ada tidak akan pernah membuat devisa kita menjadi 600 trilyun. Anda bisa membayangkan jika setiap kementerian pada akhir inisiatif mengklaim keberhasilan inisiatifnya. Inisiatif A diklaim meningkatkan devisa 200 T, Inisiatif B 200 T, Inisiatif C 100 T, Inisatif D 100 T. Totalnya 600 T padahal kenyataanya naiknya Cuma 300 T.

Kita bisa membayangkan berapa banyak inisiatif yang akan dilakukan oleh pemerintah, dengan berbagai macam asumsi yang dipasangkan. Sekarang anda bisa membayangkan betapa susahnya melakukan sinkronisasi inisiatif inter dan antar kementerian. Beberapa inisiatif yang simple, executable dan terukur akan jauh lebih baik dibandingkan dengan banyak inisiatif namun ribet dan susah dilaksanakan. Selamat bekerja!