Reporting with No Ending

​Saat ini adalah zaman reporting. Betapa tidak hampir semua pekerjaan di semua perusahaan mewajibkan karyawannya utk membuat lawan laporan yang kemudian akan dibaca oleh atasannya.  Atasannya akanmembuat juga laporan berdasarkan laporan bawahan utk atasannya lagi..  Begitu seterusnya sampai diatas mereka hanya bisa melapor kepada Tuhan. 

Dalam membuat laporan,  komponen yang tdk terpisahkan adalah data dan informasi. Baik data yg sdh tersedia di database atau data yg anda kumpulkan di lapangan. 

Utk staff yang memang tugasnya membuat laporan bagian pekerjaan yg paling membuat stress bukanlah banyaknya laporan melainkan laporan yang berubah ubah formatnya. Seakan2 informasi yang baru sejam yg lalu dibuat telah masuk waktu expired. Blm lagi kalau laporan yang dibuat membutuhkan data yg tdk tersedia di sistem. Alamak! Berasa ingin lompat dr jendela kantor. Sayangnya langsung nyebur neraka.. Huff. 

Akhir2 ini saya sudah mulai bisa membuat sebuah sistem pelaporan yang cukup membuat pinggang saya bisa bersandar lega…  Ingat yabg dibuat itu sistem nya..  Bukan hanya laporan aja. Penambahan data atau sekedar update tanggal tidak lagi bikin sakit kepala. Bagi yang masih sakit kepala monggo dikomen 🙂 

Advertisements

Statistics Never Lies.. People Did…

Berkutat dengan pekerjaan sehari-hari yang berhubungan dengan data dan angka membuat saya semakin akrab dengan sepuluh bilangan ini. Pemrosesan data dari database, charting, bikin table summarry, sekali-sekali analisa statistik kemudian menampilkannya sebagai report membuat saya cukup paham seberapa hebat sebuah angka mempengaruhi sebuah keputusan. Dalam tingkat operasional setiap report akan menjadi tulang punggung untuk mengetahui seberapa jauh atau seberapa dekat sebuah unit bisnis dengan target. lebih-lebih lagi di level eksekutif serial angka-angka itu dapat menentukan apakah sebuah perusahaan memutuskan untuk membeli perusahaan lain dengan biaya jutaan dolar atau mengambil keputusan untuk melepaskan anak perusahannya.

Semakin penting keputusan yang diambil dari data seharusnya membuat seorang analis sangat berhati-hati dalam melakukan manipulasi (pemrosesan) data. setiap operasi matematika yang dilakukan harus dapat dipertanggungjawabkan kevalidannya. Untuk level pemrosesan data ini biasanya terlalu berisiko seorang data analis melakukan manipulasi terhadap datanya karena jika dilakukan validasi silang dengan data yang lain, manipulasi seperti ini sangat mudah untuk ditemukan.

Trik-trik yang dilakukan oleh banyak orang untuk “memperindah” tampilan data nya agar audience dapat di drive sesuai keinginan orang tersebut adalah dengan pemilihan chart atau grafik yang tricky. Saya jadi teringat sebuah artikel mengenai chart junkies yang ditulis pada sebuah blog. Saat saya membaca pertama kali, saya begitu terheran-heran karena sosok yang dibicarakan pada artikel itu adalah CEO Apple yang legendaris yaitu Steve Jobs.

Pada saat diselenggarakannya WWDC 2008, Apple memperkenalkan produknya yang sangat fenomenal yakni iPhone dan OS X. Pada salah satu bagian presentasi tersebut, ada beberapa slide yang menurut beberapa orang agak ‘nakal’. Please take a look.

dsc_0143Tidak kah anda merasa ada sestau yang janggal dengan tampilan pie chart di atas? Jika masih ada yang belum “ngeh” saya akan kasih beberapa petunjuk. Berapa market share RIM? Berapa marketshare Apple? Nah, sekarang coba anda lihat, bagian pie chart RIM (biru) dan bandingkan dengan potongan pie chart milik Apple. Don’t you think this is strange? 19.5% itu kira-kira setengahnya dari 39%, tapi kenapa 19.5% terlihat lebih besar?.

Agar lebih jelas lagi, coba anda bandingkan market share dari other (21.2%) kemudian bandingkan dengan market share Apple (19.5%). Bagian pie chart Apple terlihat lebih besar padahal marketshare other lebih besar dibandingkan market share Apple. Disinilah “nakal” nya pembuat presentasi ini. Dengan menggunakan 3D pie chart dan memposisikan bagian yang ingin kita tonjolkan dibagian paling depan, maka efek “lebih besar” itu akan muncul.

Pada saat melakukan presentasi kita seringkali ingin menitik beratkan beberapa hal dibandingkan hal yang lain, dengan permainan grafik dapat membuat kesan terhadap suatu hal menjadi sangat berbeda. This is one of the proof statistics don’t lie. But People Did.