Story telling- Background

open book

Otak kita bekerja dengan cara asosiasi. Dia bekerja dengan menghubungkan satu kejadian dengan kejadian yang lain.  Bisa jadi punya hubungan bisa juga tidak. Efektifitas pemahaman kita akan sebuah masalah ditentukan oleh bagaimana otak mengakses informasi2 yg telah ada sebelumnya. Salah satu bentuk penyampaian informasi yang efektif adalah dengan menggunakan storytelling (bercerita).
Saat masih kecil kita sering dibacakan cerita dongeng atau kisah2 tentang para nabi.  Masih ingatkah anda dg cerita2 tersebut?  Saya menjawab masih… Sebagian cerita2 tersebut telah diceritakan lebih dari 20 tahun yang lalu. Bandingkan saja dengan penjelasan pimpinan rapat tadi pagi… :mrgreen: jangankan ingat, .mungkin paham aja belum.
Thats power of story telling. Bapak ibu kita menceritakan dongeng dan kisah dengan sebuah alur yang disukai oleh otak kita,  sedangkan pimpinan kita tadi pagi menjelaskan dalam bentuk yang tidak utuh dan sepotong2.
Pada kasus kedua otak kita kesulitan menjalin asosiasi antar fragmen2 informasi yang ada sehingga hanya masuk kedalam short term memory. Sedangkan cerita dan kisah tadi membekas dg kuat karena alur cerita yang sangat mudah diterima akal.

Bacakan sebuah cerita mengenai “Seorang wanita muda sedang berjalan menuju sebuah rumah tua jam 12 malam. Rumah itu mempunyai dua lantai dengan dinding yang kusam dan cat terkelupas. Malam itu sangat gelap, tidak ada bulan maupun bintang yang bersinar”.

Review. Tanyakan kembali tentang cerita diatas, simak seberapa mereka yang memperhatikan detail cerita. Minta salah seorang untuk mengulang cerita diatas. Saya sangat yakin bahwa orang tersebut dapat menceritakan kembali cerita diatas dengan baik, sekitar lebih dari 90% dari isi cerita tersebut dapat di ceritakan ulang.

Apa yang terjadi adalah saat kita bercerita, orang akan MENYIMAK, lalu secara tidak sadar otak anda akan melakukan proses MENGINGAT. Sejalan dengan proses ini, otak kita membuat sebuah GAMBARAN mengenai cerita tersebut. Lalu kita mencoba MEMAHAMI cerita tersebut.

Memangnya susah ya?? Coba anda tanyakan hal ini kepada para guru atau profesi pengajar lain. Saya sendiri sangat suka mengajar dan sempat beberapa tahun menjadi pengajar lepas, hal ini sangat-sangat susah. Sampai pada tahap menyimak mungkin sedikit lebih mudah, namun coba saja anda melakukan evaluasi belajar.  Anda baru terkejut dengan rendahnya penerimaan dan pemahaman dari murid-murid anda.

Proses dalam menyampaikan informasi hanyalah sebuah proses untuk menyampaikan gagasan dan ide anda kepada orang lain dengan harapan orang tersebut akan berpikir dan bertindak sesuai dengan apa yang anda inginkan. Contohnya anda ingin seseorang untuk membiayai bisnis anda, lalu anda mempresentasikan hitung-hitungan bisnis dengan menampilkan bagaimana penjualan akan naik jika anda melakukan ini dan itu. Dengan bermodalkan power point dan excel saja, anda dengan mudah membuat sebuah slide presentasi. Namun apakah hal tersebut menjamin orang tersebut akan bertindak sesuai dengan kenginan anda? Hal ini tergantung dari seberapa baik perhitungan anda masuk akal dan jangan lupa bagaimana anda menyampaikan gagasan dan ide anda tersebut.

Dengan bercerita, anda bisa mendapatkan PERHATIAN, lalu anda membuat dia MENGINGAT apa yang anda sampaikan, lalu anda berikan GAMBARAN yang jelas sehingga dia bisa PAHAM dan akhirnya mau bertindak sesuai dengan kenginan anda.

Just FYI. Terlepas dari apa agama anda, saat anda membuka kitab suci anda maka anda akan menemukan banyak sekali cerita yang tertera didalam semua kitab suci kisah nabi Musa dalam Al-Quran, kisah Sodom dan Gomorah di Injil, Kisah Pandawa dan Kurawa di Kitab Mahabarata dan lain sebagainya. Tuhan pasti punya alasan menggunakan cerita dalam kitab-kitabnya. Well, Tuhan jelas tahu tentang kita lebih dari kita mengenal diri kita. Dia mendesign cara yang paling tepat agar kita mengerti dan mau menjalan perintahnya lewat cerita-cerita yang Dia sampaikan. Jika Tuhan saja sudah menggunakan cara ini, maka tidak perlu ragu lagi untuk menggunakan cara yang sama untuk menyampaikan pesan anda kepada orang lain.

Visualisasi Data Dengan Gabungan Lebih dari Satu Grafik

Dalam menyajikan informasi kita sering kali dihadapkan pada pertanyaan bagaimana jika grafik ini dan itu digabungkan menjadi satu grafik saja? Tidak usah bingung, gabungkan saja :). Bagaimana cara menggabungkannya? Nah silahkan lanjutkan bacanya sampai selesai ya…

Pada posting sebelumnya saya sudah menjelaskan tiga jenis grafik paling dasar yang ada di dunia persilatan data. Nah, berikut ini adalah penjelasan bagaimana bentuk-bentuk lain dari grafik-grafik tersebut dan kapan menggunakannya

Satu: Stack Graph (Grafik bertumpuk)

Grafik jenis ini merupakan bentuk lain dari bar chart, perbedaannya adalah pada stack chart grafik batang dibagi menjadi beberapa bagian yang bisa dibedakan dengan warna. Setiap warna menandakan bagian yang lebih detail dari setiap batang.

Dengan menumpukkan setiap batang kita dapat membandingkan proporsi dari beberapa dimensi dengan level detail yang lebih dalam dibandingkan dengan bar chart sederhana. Pada stack chart anda dapat menggali informasi tambahan yakni setiap perubahan satu bagian maka akan mempengaruhi bagian yang lain. Sebagai contoh coba perhatikan data pada Qtr1 dan Qtr 2 peningkatan mail order pada dari Qtr1 ke Qtr 2  memakan bagian penjualan menggunakan retail. Hal ini dengan mudah dilihat dengan menggunakan stack chart dibandingkan dengan bar chart sederhana. See? It’s easy.

Dua: Gabungan Line dan Bar Chart

Let’s say kita telah membuat satu grafik untuk menjelaskan perkembangan sales per bulan dan satu grafik lain menjelaskan mengenai perkembangan profit perbulan. Jika mengamati secara terpisah, maka informasi yang didapatkan hanya informasi yang terpisah. Nah, coba kita sekarang gabungkan dua grafik ini.

Dengan hanya menggabungkan dua grafik ini dan menyesuaikan bagian axis nya, maka kita mendapatkan informasi yang tidak kita dapatkan dari grafik individual. Salah satu contohnya adalah pada bulan April (4) terdapat penurunan profit padahal sales meningkat. Temuan seperti ini bagi orang-orang marketing menggelitik rasa penasarannya. Kok bisa ya terjadi seperti itu? Tindak lanjutnya adalah dengan investigasi apa yang menyebabkan penurunan profit tersebut? Insight seperti ini dengan mudah dilihat dengan menggabungkan dua grafik seperti diatas.

Data dan Informasi… Emang beda ya?

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berhubungan dengan data. Data tidak hanya kumpulan angka yang dicatat dari sebuah peristiwa atau kejadian kedalam bentuk tabel atau diagram. Bentuk paling sederhana dari data dapat berupa huruf, angka maupun simbol yang memiliki yang masih tidak terorganisir dan mentah. Data mewakili sebuah keadaan, ide atau obyek dan sifatnya tidak terbatas dan ada diseluruh alam semesta.

(http://www.businessdictionary.com/definition/data.html)

Data seringkali disalah artikan dengan informasi. Oleh karena itu mari kita perjelas apa perbedaan data dan informasi melalui ilustrasi berikut ini.

Image

Sumber: http://www.infogineering.net/data-information-knowledge.htm

Dari situs ini saya dapatkan ilustrasi yang cukup menarik. Analoginya seperti ini, jika saya memotret anda maka foto yang saya dapatkan adalah sebuah informasi, namun apa yang ada pada diri anda dan bagaimana rupa anda adalah data. Saya dapat mengirimkan foto anda kepada orang lain dan orang tersebut mendapatkan informasi tentang anda dari foto tersebut. Satu lagi hal yang membedakan data dan informasi yakni, data itu selalu benar (tidak mungkin saya berumur 29 dan 62 dalam waktu yang bersamaan kan?) namun informasi bisa saja salah, jika terdapat dua pencatatan yang salah satunya mencatat saya lahir tahun 1981 dan pencatatan yang lain pada tahun1948. Seperti halnya kegiatan memotret tadi, informasi hanya “memotret” data pada satu titik saja, jika datanya berubah maka informasi awal tadi menjadi tidak relevan.