Analisa data serahkan (belajar) pada ahlinya

find-mentor-moltz-open-forum-432

Bagi kalian yang menyusun tugas akhir dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, maka tahap yang paling melelahkan adalah pemilihan metode penelitian dan tahap pengolahan data. Mengapa kedua tahap ini adalah tahap paling melelahkan dan paling memakan waktu? Jawaban yang paling sering saya temui adalah karena sang peneliti tidak familiar dengan istilah-istilah dan pendekatan kuantitatif/statistika.

Mereka yang merupakan lulusan statistika saja masih banyak yang kesusahaan dengan istilah-istilah statistika dan masih harus merujuk pada literatur-literatur yang ada. Namun demikian, bagaikan sebuah peta, untuk anda yang bukan dari jurusan statistika anda seakan masuk ke daerah yang sangat asing dan peta yang anda pegang adalah peta buta. Anda juga tidak pernah tahu bagaimana membaca peta. Lengkap sudah!

Oleh karena itu anda membutuhkan bantuan dari orang-orang yang sudah ahli dalam hal pengolahan data, sehingga anda mendapatkan bantuan untuk memilih peta yang sesuai dan mengajarkan anda bagaimana anda membaca peta. Saya rasa akan sangat masuk akal anda menghemat berbulan-bulan hanya untuk mempelajari satu analisis yang hanya dalam waktu 2-3 hari dapat anda kuasai dengan bimbingan mentor yang tepat.

Find your mentor here!

Story Telling dengan Data??

data-storytelling-lifecycle-via-infogr-am-sept-2014

Pada postingan sebelumnya saya pernah menuliskan bagaimana teknik penyajian dengan stroy telling atau tutur cerita adalah salah satu cara paing efektif untuk menyampaikan informasi dengan baik. Dengan cara ini orang yang menjadi audiens akan lebih PERHATIAN, MENYIMAK, dan MENGINGAT informasi yang kita sampaikan dengan lebih baik.

Saya adalah orang data dan saya suka bercerita. Saya bercerita dengan data. Ini adalah gaya komunikasi yang saya gunakan dan saya sangat menyukainya. Ingin tahu apa saja yang diperlukan untuk membuat sebuah story telling dengan data? Let’s get started.

Bagi anda yang bekerja di perusahaan yang berbasis teknologi, tentunya anda akan menemukan sebuah divisi khusus yang mengelola data dan infrastrukturnya. Umumnya disebut divisi IT, sebagian perusahaan malahan sudah memiliki divisi yang jauh lebih spesifik yang mengelola jenis data yang sekarang sedang ng-trend yakni BIG DATA.

Apapun jenis perusahaan tempat anda bekerja, baik anda di unit operasional maupun unit bisnis anda akan sering diminta melakukan analisa bisnis baik rencana, monitoring maupun laporan akhir. Hasil laporan yang anda buat kemudian akan disampaikan pada atasan anda, atau atasan dari atasan anda. Disinilah DATA STORY berperan. Anda bisa memilih untuk menampilkan datanya dalam bentuk tabel seperti ini?6-12-chart_4Atau anda menampilkan dengan beberapa grafik seperti ini?

figure-2

Apapun pilihan anda dalam menampilkan presentasi anda, pastikan anda membuatnya dengan cara yang benar. Btw, untuk kedua cara penyajian data diatas apa insight yang bisa anda dapatkan? Well, jujur saja saya sendiri kesulitan setengah mampus untuk membaca apa sebenarnya tujuan dari si pembuat grafik/tabel.

Pada data story salah satu hal yang perlu kita tekankan adalah KESEDERHANAAN (SIMPLICITY). Data seperti halnya dengan sumber informasi lain, seperti quote atau informasi dari ahli hanyalah ALAT untuk kita bercerita. Intinya adalah TUJUAN/MAKSUD kita agar bisa tersampaikan dengan baik. Thats all. Semakin banyak data yang anda tampilkan TIDAK membuat anda semakin PINTAR atau semakin JAGO, sebaliknya hal tersebut hanya menunjukkan anda TIDAK TAHU YG ANDA INGIN SAMPAIKAN.

Ada istilah sink or swim ini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bahwa dengan jumlah informasi yang begitu banyak, dapatkah anda menggunakan kemampuan anda untuk swimming diantara lautan informasi ini ataukah anda adalah orang-orang yang  sinking karena tidak mampu menggali dan memanfaatkan data dan informasi yang begitu banyak sehingga seakan-akan tenggelam dalam lautan data/informasi ini. Bagaimana dengan anda? Sudah bisa berenang atau masih kesusahan berjuang kepermukaan?

harrypotter5posterarticle-2559322-06775c8100000514-99_634x705

Apa cerita kesukaan anda? Harry Potter? Sherlock Holmes? Secara pribadi saya suka sherlock holmes, alasannya banyak kejutan-kejutan tidak terduga (UNEXPECTED) yang saysa temukan sepanjang cerita. Tentu saja kejadian itu begitu kuat teringat didalam ingatan. Dengan cara yang sama, kita berusahan menampilkan sesuatu yang UNEXPECTED di dalam data story kita. Kita lakukan berbagai analisa dari yang sederhana sampai yang complicated untuk menampilkan hal-hal yang tidak kasat mata. Sesuatu yang tidak disadari dan hanya bisa ditampilkan dengan menggali data. Cerita yang didalamnya ada hal yang UNEXPECTED akan sangat menarik untuk disimak, other way akan sangat membosankan.

Pernahkah anda menyimak sebuah presentasi dimana pada akhir sesi presentasi anda bukannya anda mendapatkan informasi malahan anda semakin bingung? Anda tidak menemukan kejelasan dalam presentasi tersebut. Dalam sebuah penyampian cerita anda harus konkrit (CONCRETE) artinya harus jelas, solid dan tidak membingungkan. Hal yang paling penting dari sebuah cerita adalah pesan yang akan disampaikan. Pesan inilah yang harus secara jelas dan solid tersirat dan tersurat dalam sebuah presentasi. Hindari penggunaan aksesoris yang berlebihan sehingga membuat tujuan utama dari presentasi tersebut menjadi blur dan tidak jelas.

honesty

Jika anda pernah membaca atau mendengar How To Lie With Statistics, maka anda pasti tahu apa yang akan saya bicarakan berikut ini. Ya, masalah kredibilitas (CREDIBILITY). Seorang Data analyst atau siapapun yang melakukan pengolahan data wajib mempunyai kredibilitas dalam menyajikan datanya. Tanpa sikap ini maka apapun yang akan disampaikan berikutnya tidak lebih dari omong kosong. Data tidak pernah berbohong, manusialah yang berbohong. Namun ditangan yang tepat data akan menjadi sesuatu yang luar biasa yang bisa menjadi pembeda antara kesuksesan dan kegagalan. Kebenaran dan kenyataan yang terkandung didalam data inilah yang perlu digali dan ditemukan oleh orang-orang yang kredibel. Sifat data analyst atau pengolah data inilah yang akan menentukan kredibilitas dari cerita atau informasi yang anda akan dapatkan.

Karena sekarang lagi ngetrend kpop, maka saya coba kasih contoh yang kekinian. Pernah lihat drama korea? Salah satu yang ngetrend dulu adalah Endless Love… sampai-sampai sebuah tabloid membuat sebuah grafik trendline jumlah air mata pemirsa yang terkuras untuk tiap episodenya… what?? Untuk yang sekarang silahkan pilih sendiri jenis film atau drama yang anda suka… Apa kesamaan dari semua film-film tersebut? Ssatu yang menurut saya selalu ada selain aktor-aktor ganteng dan selalu kaya dan cewek cantik yang urakan dan miskin.. hehe.. adalah EMOSI... Saat emosi pemirsa terlibat, maka semua urusan mengenai perhatian dan pengingatan akan menjadi mudah.. Emosi membuat keterikatan dan membuat proses mengingat menjadi lebih mudah dan kuat karena tidak hanya otak yang mengingat, namun seluruh anggota badan.

Dalam presentasi kita harus membuat sebuah alur cerita dan alur tutur yang membangkitkan emosi dari audiens kita. Pilihlah contoh-contoh atau pilihan-pilihan gambar yang punya koneksi dengan audiens, pilihan warna-warna yang mewakili simbol-simbol emosi tertentu dan yang paling penting tampilkan data dan informasi yang membuat audiens kita ‘WOW’. Memang membangun emosi audiens ini membutuhkan keterampilan berbahasa dan gesture yang tepat. Sekali anda bisa menguasainya anda dapat membuat audiens anda melakukan hal-hal yang anda inginkan. Thats the point.

Hal terakhir yang menurut saya perlu ditambahkan dalam ramuan data story kita adalah STRUCTURE. Saat anda punya banyak informasi yang sangat ingin anda sampaikan namun anda punya waktu yang sangat terbatas maka pastikan bahwa story anda tersusun dengan STRUCTURE yang membentuk alur cerita. Hindari lompatan logika dan lompatan kesimpulan yang akan membuat alur cerita menjadi kacau.

Hope this blogs post find you in great condition.. 🙂

 

Story telling- Background

open book

Otak kita bekerja dengan cara asosiasi. Dia bekerja dengan menghubungkan satu kejadian dengan kejadian yang lain.  Bisa jadi punya hubungan bisa juga tidak. Efektifitas pemahaman kita akan sebuah masalah ditentukan oleh bagaimana otak mengakses informasi2 yg telah ada sebelumnya. Salah satu bentuk penyampaian informasi yang efektif adalah dengan menggunakan storytelling (bercerita).
Saat masih kecil kita sering dibacakan cerita dongeng atau kisah2 tentang para nabi.  Masih ingatkah anda dg cerita2 tersebut?  Saya menjawab masih… Sebagian cerita2 tersebut telah diceritakan lebih dari 20 tahun yang lalu. Bandingkan saja dengan penjelasan pimpinan rapat tadi pagi… :mrgreen: jangankan ingat, .mungkin paham aja belum.
Thats power of story telling. Bapak ibu kita menceritakan dongeng dan kisah dengan sebuah alur yang disukai oleh otak kita,  sedangkan pimpinan kita tadi pagi menjelaskan dalam bentuk yang tidak utuh dan sepotong2.
Pada kasus kedua otak kita kesulitan menjalin asosiasi antar fragmen2 informasi yang ada sehingga hanya masuk kedalam short term memory. Sedangkan cerita dan kisah tadi membekas dg kuat karena alur cerita yang sangat mudah diterima akal.

Bacakan sebuah cerita mengenai “Seorang wanita muda sedang berjalan menuju sebuah rumah tua jam 12 malam. Rumah itu mempunyai dua lantai dengan dinding yang kusam dan cat terkelupas. Malam itu sangat gelap, tidak ada bulan maupun bintang yang bersinar”.

Review. Tanyakan kembali tentang cerita diatas, simak seberapa mereka yang memperhatikan detail cerita. Minta salah seorang untuk mengulang cerita diatas. Saya sangat yakin bahwa orang tersebut dapat menceritakan kembali cerita diatas dengan baik, sekitar lebih dari 90% dari isi cerita tersebut dapat di ceritakan ulang.

Apa yang terjadi adalah saat kita bercerita, orang akan MENYIMAK, lalu secara tidak sadar otak anda akan melakukan proses MENGINGAT. Sejalan dengan proses ini, otak kita membuat sebuah GAMBARAN mengenai cerita tersebut. Lalu kita mencoba MEMAHAMI cerita tersebut.

Memangnya susah ya?? Coba anda tanyakan hal ini kepada para guru atau profesi pengajar lain. Saya sendiri sangat suka mengajar dan sempat beberapa tahun menjadi pengajar lepas, hal ini sangat-sangat susah. Sampai pada tahap menyimak mungkin sedikit lebih mudah, namun coba saja anda melakukan evaluasi belajar.  Anda baru terkejut dengan rendahnya penerimaan dan pemahaman dari murid-murid anda.

Proses dalam menyampaikan informasi hanyalah sebuah proses untuk menyampaikan gagasan dan ide anda kepada orang lain dengan harapan orang tersebut akan berpikir dan bertindak sesuai dengan apa yang anda inginkan. Contohnya anda ingin seseorang untuk membiayai bisnis anda, lalu anda mempresentasikan hitung-hitungan bisnis dengan menampilkan bagaimana penjualan akan naik jika anda melakukan ini dan itu. Dengan bermodalkan power point dan excel saja, anda dengan mudah membuat sebuah slide presentasi. Namun apakah hal tersebut menjamin orang tersebut akan bertindak sesuai dengan kenginan anda? Hal ini tergantung dari seberapa baik perhitungan anda masuk akal dan jangan lupa bagaimana anda menyampaikan gagasan dan ide anda tersebut.

Dengan bercerita, anda bisa mendapatkan PERHATIAN, lalu anda membuat dia MENGINGAT apa yang anda sampaikan, lalu anda berikan GAMBARAN yang jelas sehingga dia bisa PAHAM dan akhirnya mau bertindak sesuai dengan kenginan anda.

Just FYI. Terlepas dari apa agama anda, saat anda membuka kitab suci anda maka anda akan menemukan banyak sekali cerita yang tertera didalam semua kitab suci kisah nabi Musa dalam Al-Quran, kisah Sodom dan Gomorah di Injil, Kisah Pandawa dan Kurawa di Kitab Mahabarata dan lain sebagainya. Tuhan pasti punya alasan menggunakan cerita dalam kitab-kitabnya. Well, Tuhan jelas tahu tentang kita lebih dari kita mengenal diri kita. Dia mendesign cara yang paling tepat agar kita mengerti dan mau menjalan perintahnya lewat cerita-cerita yang Dia sampaikan. Jika Tuhan saja sudah menggunakan cara ini, maka tidak perlu ragu lagi untuk menggunakan cara yang sama untuk menyampaikan pesan anda kepada orang lain.